KESETARAAN Belakang 4 1.2 Rumusan Masalah 5 1.3 Tujuan

KESETARAAN GENDER DALAM SUDUT PANDANG ISLAM Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah TPB        Disusun Oleh Nama               :  Alya SalsabiilaFakultas           :  Psikologi NPM               :190110170099    UNIVERSITAS PADJADJARANJATINANGOR2017 KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT,karena berkat limpahan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya maka makalah ini dapatdiselesaikan dengan baik.

Dan semoga salam dan salawat selalu tercurah padabaginda Rasulullah Muhammad SAW dan pengikutnya hingga akhir zaman.  Makalah ini penulis susun untuk memenuhi tugas akhirTPB 2017. Selain itu, penulis berharap makalah ini dapat dijadikan sebagaipenambah pengetahuan bagi pembaca.  Penulis mengucapkan rasa terimasih yangsebesar-besarnya atas semua bantuan yang telah diberikan, baik secara langsungmaupun tidak langsung selama penyusunan tugas akhir ini hingga selesai.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Secarakhusus rasa terimakasih tersebut penulis sampaikan kepada pihak-pihak yangtelah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini, yang tidak bisa penulissebut namanya satu persatu.  Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini belumsempurna, baik dari segi materi maupun penyajiannya. Untuk itu saran dan kritikyang membangun sangat diharapkan dalam penyempurnaan tugas akhir ini.  Terakhir penulis berharap, semoga tugas akhir inidapat memberikan hal yang bermanfaat dan menambah wawasan bagi pembaca dankhususnya bagi penulis juga.    Jatinangor, 2017   Penulis  DAFTAR ISI  HALAMAN SAMPUL          1KATA PENGANTAR           2DAFTAR ISI              3Type chapter title (level 2)      5Type chapter title (level 3)      6BAB 1 PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang      41.2 Rumusan Masalah 51.3 Tujuan       5BAB 2 PEMBAHASAN 2.1 Definisi Kesetaraan Gender   2.

1.1 Gender            6   2.1.2Kesetaraan Gender     82.

2 Kesetaraan Gender Dalam Sudut Pandang Islam            9BAB 3 PENUTUP 2.1 Kesimpulan           122.2 Saran         12DAFTAR PUSTAKA            13            BAB IPENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan rumah dari 261,1 juta jiwa. Daritotal keseluruhan jumlah tersebut terdapat 126,8 juta perempuan.

Menurut KBBI, perempuan adalah orang (manusia) yangmempunyai puki, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui. Secara etimologis, kata perempuan berasal dari kataempu yang berarti ‘tuan’, ‘orang yang mahir/berkuasa’, atau pun ‘kepala’,’hulu’, atau ‘yang paling besar’. Kata perempuan juga berhubungan dengan kataampu ‘sokong’, ‘memerintah’, ‘penyangga’, ‘penjaga keselamatan’, bahkan ‘wali’;kata mengampu artinya ‘menahan agar tak jatuh’ atau ‘menyokong agar tidakruntuh’; kata mengampukan berarti ‘memerintah (negeri)’; ada lagi pengampu’penahan, penyangga, penyelamat’. (Sudarwati & Jupriono, 1997)Kesetaraan gender sangat erat kaitannya denganemansipasi wanita. Emansipasi perempuanmerupakan bukti nyata dan tindak lanjutdari gagasan kesetaraan gender. Emansipasi perempuanmerupakan titik tolak balikdimana keberadaan perempuanmulai diperhitungkan.

Indonesia sebelum masaemansipasi bukanlah Indonesia yang pantas untuk kita kenang. Perempuan hidupdalam kesengsaraan. Kebanyakan orang menganut paham bahwa perempuan merupakanmakhluk lemah yang derajatnya tidak lebih tinggi daripada laki-laki. Hakperempuandibatasi untuk sekedar berada di rumah, melayani sang tuan denganlabel suami, tidak di izinkan untuk mengenyam pendidikan setelah umur tertentu,di kurung, tidak diberikan kesempatan untuk sekedar mengemukakan pendapat tanpadi anggap remeh.

Satu kata yang dapat menggambarkan perempuan pada kala itu:terkekang. Lalu setelah masa yang dapat dikatakan suram tersebut,munculah tokoh-tokoh emansipasi, yang di pelopori oleh R.A Kartini. Merekamemunculkan secercah harapan bagi para perempuan di Indonesia. Tokoh-tokohemansipasi dengan tangguhnya memperjuangkan agar perempuan memiliki hak yangsetara dengan laki-laki, dengan harapan para perempuan di Indonesia dapat hiduplebih layak. Keteguhan dan keuletan tokoh-tokoh ini untukmemperjuangkan hak yang setara antar gender merupakan hal yang menginspirasipenulis untuk membuat makalah ini.

Topik ini dapat di bahas dari berbagai sudutpandang, namun secara khusus penulis akan membahas topik ini dalam sudutpandang agama islam. Dengan harapan setelah makalah ini di buat akan lebihbanyak pembaca yang memahami bagaimana kesetaraan gender dilihat dari sudutpandang islam. 1.2 Rumusan Masalah Bagaimana kesetaraan gender dilihat dari sudut pandangislam? 1.

3 Tujuan             Untukmengetahui bagaimana kesetaraan gender dilihat dari sudut pandang islam.            BAB IIPEMBAHASAN 2.1 Definisi Kesetaraan Gender             2.1.

1Gender  Gender merupakan istilah baru yang muncul di daerahbarat pada sekitar tahun 1980. Gender dan seks merupakan dua hal yang berbeda.Seks adalah jenis kelamin seseorang dilihat dari sisi biologis, yaitu dariperbedaan kromosom ke-23.Sementara gender adalah semua atribut sosial mengenailaki-laki dan perempuan, misalnya laki-laki digambarkan mempunyai sifatmaskulin seperti keras, kuat, rasional, gagah. Sementara perempuan digambarkanmemiliki sifat feminin seperti halus, lemah, perasa, sopan, penakut (Hermawati,2007).Laki-laki dan perempuandapat dikatakan mirip dalamberbagai aspek. Keduanya sama sama berkeringat ketika panas, dan terluka ketikateriris  pisau. Bahkan ketikamendeskripsikan pasangan ideal, laki-laki dan perempuanakan mengatakansifat-sifat seperti “baik”, “jujur”, dan “cerdas” di daftar paling atas mereka.

Tapi ketika bersangkutan dengan perkawinan (mating), para psikologisevolusioner berpendapat bahwa laki-laki akan bertingkah seperti laki-laki padaumumnya, tidak ada perbedaan sikap antara laki-laki yang tinggal di desa maupundi kota, ataupun laki-laki yang bersuku Jawa maupun Sumatra. Perbedaan tersebutdapat dipengaruhi secara genetis dari kromosom seks yang berbeda antaralaki-laki dan wanita, ataupun secara fisiologis, dari perbedaan konsentrasihormon seks antara laki-laki dan wanita. Laki-laki dan perempuanadalah variasi dari satu bentukyang sama. Tujuh minggu setelah konsepsi, laki-laki dan perempuanmasih belumbisa dibedakan. Lalu, gen pada tubuh akan mengaktifkan seks biologis (jeniskelamin) yang ditentukan pasangan kromosom ke-23, yaitu kromosom seks. Dariibu, seseorang akan menerima kromosom X.

Dan dari ayah, seseorang akan menerimasatu dari ke-46 kromosom yang tidak unisex. Seseorang akan menerima satudiantara kromosom X dan kromosom Y. Kromosom X akan menjadikan seseorangberjenis kelamin wanita, kromosom Y akan menjadikan seseorang berjenis kelaminlaki-laki. Kromosom Y memiliki satu gen yang merangsang testis untukmengembangkan dan memproduksi hormon laki-laki yang disebut testosteron.Perempuanjuga memiliki testosteron, namun dalam jumlah yang lebih sedikit.

Periode penting lain dari yang menyebabkan perbedaanseks terletak pada bulan ke-4 dan ke-5 kehamilan, ketika hormon seks memenuhiotak janin dan mempengaruhi pertumbuhannya. Perbedaan pola yang terlihat antaralaki-laki dan perempuanberkembang dibawah pengaruh dari hormon testosteron padalaki-laki, dan hormon ovarian pada perempuan(Hines, 2004; Udry, 2000).Pada orang dewasa, bagian frontal lobes, area yangberfungsi pada kemampuan verbal, terlihat lebih tebal pada wanita. Sementara bagiandari parietal cortex yang berfungsi sebagai persepsi tentang sesuatu yang tidaknyata (spatial perception), lebih tebal pada laki-laki. Penelitian lainmengatakan bahwa perbedaan gender terletak pada hipokampus, amigdala, danperbandingan volume antara zat abu abu dan zat putih. Ketika pada embrio yang seharusnya berjenis kelaminperempuanterdapat testoseron berlebih, bayi perempuanakan terlahir dengan alatkelamin laki-laki, yang dapat diterima atau dihilangkan dengan operasi.

Namunperempuantersebut akan bersifat lebih tomboy daripada wanita-perempuanlain danmereka akan berpakaian dan bermain seperti kebanyakan laki-laki sampaiperempuantersebut mencapai tahap pubertas (Berenbaum & Hines, 1992;Ehrhardt, 1987). Kelebihan hormon tersebut tidak mengubah identitasgender mereka; mereka tetap menganggap diri mereka sebagai perempuan(Berenbaum& Bailey, 2003).Namun permasalahan yang lebih kompleks akan munculketika kita mempertimbangkan pengaruh sosial. Perempuanyang memiliki hormontestosteron berlebih pada kasus diatas akan terlihat lebih maskulin dan di cap”berbeda”, dan orang lain akan memperlakukan mereka seperti laki-laki. Jadidapat dikatakan bahwa efek dari hormon seks berlebih tersebut secara langsungterdapat pada penampilan biologis perempuantersebut, dan secara tidak langsungterdapat pada pengaruh dari lingkungan sosial yang membentuk perempuantersebut.Jenis kelamin jelas berpengaruh dalam pembentukangender. Namun dari prespektif biopsikosial, kebudayaan dan lingkungan sekitarjuga berpengaruh. Dapat dilihat bahwa kebudayaan punya kekuatan untuk membentuksuatu norma tidak tertulis dan yang mengatur tentang bagaimana seharusnyalaki-laki dan wania berperilaku.

Dari hal tersebut, terciptalah sesuatu yangdisebut sebagai peran gender (gender role), ekspektasi tentang bagaimanalaki-laki dan perempuanseharusnya berperilaku. Sebagai contoh, laki-laki padaumumnya menyetir mobil, dan membayar tagihan. Sementara perempuanmengurus rumahdan merawat anak.

Selain itu terciptalah pula identitas gender (genderidentity) yaitu pendapat seseorang tentang apakah dirinya perempuanataulaki-laki. Kesimpulannya, selain dipengaruhi secara biologis,lingkungan juga mempengaruhi pembentukan gender.  Seperti yang dikatakan oleh National Academyof Sciences (2001) bahwa jenis kelamin merupakan sesuatu hal yang penting dalampembentukan gender, namun selain itu terdapat pula kombinasi dari faktorlingkungan, gen terpaut seks, dan fisiologis yang akan menghasilkan perbedaanbaik secara perilaku maupun kognitif pada laki-laki dan wanita.             2.1.2Kesetaraan Gender Kesetaraan gender berarti perempuan dan laki-lakimendapatkan akses dan kesempatan yang sama dalam segala bidang, sertapenghapusan diskriminasi dan ketidakadilan baik terhadap laki-laki maupunperempuan.

Di Indonesia sendiri, penghapusan ketidakadilan yangmemberikan efek sangat besar dan signifikan terjadi pada tahun 1908 saat RAKartini memperjuangkan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan, khususnyadalam bidang pendidikan. Hal ini membuahkan hasil dengan ditetapkanya tanggal22 Desember 1928 sebagai Hari Ibu oleh Kongres Perempuan Indonesia.Selanjutnya, pada tahun 1978 dibentuk Kementrian Urusan Peranan Wanita. Lalupada tahun 1970-1980an muncul benih-benih gerakan perempuan kontemporer yaituLembaga Suadaya Masyarakat (LSM) atau Non-Goverment Organization (NGO) yangberperan hingga kancah internasional. Lalu pada periode Habibie pada tahun 1999dibentuk Komisi Nasional Perlindungan Kekerasan terhadap Perempuan. Hal yangdiperjuangkan RA Kartini terus menghadapi kemajuan, pada masa kepemimpinanMegawati Soekarno Putri, Kementrian Negara Pemberdaya Perempuan menerapkanInpres No. 9 Tahun 2000 dengan fokus utama pada partisipasi perempuan dalamkehidupan publik dan jabatan politik strategis.

Hal ini berdampak pada tuntutankuota kursi legislatif sebanyak 30% bagi calon perempuan yang disetujui dalamUU Pemilihan Umum Pasal 65, dan pada masa kepememimpinan Presiden SusiloBambang Yudhoyono diangkat 4 orang perempuan dalam kabinetnya. 2.3 Kesetaraan Gender Dalam Sudut Pandang Islam Dalam islam, semua orang dianggap setara derajatnya.Tidak ada dalam sejarahnya islam merendahkan atau menganggap perempuan lebihbaik daripada laki-laki dan juga sebaliknya.

Bahkan islam menghapusbudaya-budaya diskriminasi terhadap perempuan yang terdapat pada zamanjahiliyah.  Contohnya, pada zamanjahiliyah, seorang ayah diperbolehkan untuk membunuh anaknya apabila berjeniskelamin perempuan dengan kekhawatiran jika anak perempuan tersebut dewasa, anaktersebut akan menikah dengan orang asing atau orang yang kedudukannya lebihrendah. Contoh lain, laki-laki diperbolehkan untuk menjual istrinya. Lalu islam datang, dan masa masa kegelapan tersebutmenemukan titik cerah.

Perempuan diberikan hak-hak yang harusnya merekadapatkan seperti warisan, kepemilikan harta, kebebasan menentukan pasanganhidup, persamaan kedudukan di mata hukum. Dapat disimpulkan bahwa islam menghapuskan berbagai macam bentukdiskriminasi yang terbentuk antara perempuan dan laki laki. Beberapa ayat yang membahas tentang kesetaraan hakantara laki-laki dan perempuan adalah sebagai berikut: Q.S. Al-Baqarah: 213 yang artinya:  “Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbulperselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan danAllah menurunkan bersama mereka kitab yang benar untuk memberi keputusan diantara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisihtentang kitab itu, melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka kitab,yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karenadengaki antara mereka sendiri.

Maka Allah memberi petunjuk orang-oragn yangberiman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengankehendak-Nya dan Allah selalu memberi petunjuk kepada orang yangdikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.”Q.S Al-Hujurat: 13 yang artinya: “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dariseorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsabangsa danbersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang palingmulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantarakamu.” Q.S. Al-Nahl: 97 yang artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baiklaki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kamiberikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasankepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah merekakerjakan.

” Q.S. Al-Taubah:71 yang artinya: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan,sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. merekamenyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikanshalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu”Dari ayat diatas dapat disimpulkan bahwa islammemandang laki-laki dan perempuan sebagai makhluk yang sama derajatnya, danmempunyai kedudukan yang sama dimata Allah SWT, bahkan saling melengkapi satusama lain.

Yang membedakan antara satu dengan yang lainnya adalah amal salehyang masing-masing individu kerjakan dan jika ada perbedaan hak dan kewajibanantara jenis kelamin itu semata hanya karena akibat fungsi dan tugas utama yangdiberikan Allah SWT kepada masing-masing jenis kelamin.                  BAB IIIPENUTUP 3.1 Kesimpulan Gender dan seks merupakan dua hal yang berbeda. Seksadalah jenis kelamin seseorang dilihat dari sisi biologis, yaitu dari perbedaankromosom ke-23, sementara gender adalah semua atribut sosial mengenai laki-lakidan perempuan.

Kesetaraan gender berarti perempuan dan laki-lakimendapatkan akses dan kesempatan yang sama dalam segala bidang, sertapenghapusan diskriminasi dan ketidakadilan baik terhadap laki-laki maupunperempuan. Jika isu keseteraan gender ini dibahas dalam sudutpandang islam, akan didapatkan kesimpulan bahwa dalam islam sendiri tidakmenghendaki adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki. Allah SWTmenganggap semua makhluk-Nya sama derajatnya dan satu satunya yang membedakanmereka adalah amalan yang dilakukan masing-masing individu, serta perbedaanfungsi dan tugas utama yang diberikan oleh Allah SWT terhadap masing-masingjenis kelamin. 3.2 Saran Setelah menyusun makalah ini hal yang dapat penulissarankan adalah untuk berpikiran lebih terbuka dalam menghadapi isu tentangkesetaraan gender ini sendiri.

Manusia diciptakan dengan kedudukan yang sama dimata Allah SWT, tidak ada yang lebih tinggi maupun rendah. Jadi menilaikemampuan seseorang berdasarkan jenis kelaminnya merupakan hal yang tidak patutuntuk dilakukan. Dan satu hal yang harus diingat adalah kesetaraan gender tidakselamanya berarti hak-hak perempuan diperjuangkan namun hak hak laki-lakimenjadi dilupakan. Seperti yang sudah dituliskan pada bagian pembahasan,kesetaraan ini dimaksudkan agar perempuan dan laki-laki mempunyai hak dankewajiban yang sama dalam segala bidang. Dengan disusunnya makalah ini penulisberharap agar diskriminasi antar jenis kelamin dapat berkurang.   Daftar PustakaHermawati, T.

(2007). Budaya Jawa dan KesetaraanGender. Jurnal Komunikasi Massa, 21.Hanafi, A. (2015). Peran Perempuan dalam Islam.

GenderEquality: Internasional Journal of Child and Gender Studies, 16-20.Myers, D. G. (2009). Psychology in Modules 9thEdition.

New York : Worth Publisher.Nurwardani, P., Syahidin , Hadiyanto, A., Rahmat, M.,Alba, C., Mulyono , E., .

. . Fachrudin . (2016).

Pendidikan Agama Islam untukPerguruan Tinggi. Jakarta: Direktorat Jendral Pembelajaran dan KemahasiswaanKementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi .Insani, M. (2013).

Emansipasi atau Kesetaraan Gender?.Diakses pada 28 Desember 2017 darihttps://www.kompasiana.com/insani.

media.center/emansipasi-atau-kesetaraan-gender_55300ba96ea83406148b459bYuliana, Y. (2017). Sejarah Kesetaraan dan KeadilanGender di Indonesia. Diakses pada 28 Desember 2017 darihttps://www.kompasiana.com/yuliana95/sejarah-kesetaraan-dan-keadilan-gender-di-indonesia_58f13639917a61b22f870ef6