Kata generasi Indonesia menjadikan kegiatan membaca sebagai satu kebutuhan

Kata Pengantar

 

Puji
dan syukur kehadirat Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang atas
segala rahmat serta karuniaNya sehingga makalah ini dapat tersusun hingga
selesai secara maksimal.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Adapun
penulisan makalah ini adalah sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Tahap
Persiapan Bersama (TPB) dengan tema Sustainable Development Goals (SDGs). Tema
yang diambil yaitu pendidikan berkualitas yang disangkut pautkan dengan agama.
Diharapkan semoga makalah ini dapat berguna, menambah
pengetahuan, serta menambah pengalaman bagi para pembaca

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman,
Penulis
menyadari bahwa makalah ini belumlah sempurna. Oleh karena itu, saran dan
kritik yang membangun dari pembaca sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan
makalah ini.

 

 

Jakarta,
Desember 2017

 

 

Penyusun

 

 

BAB
I

Pendahuluan

 

A.   
Latar Belakang

Melihat perkembangan dunia
teknologi informasi saat ini tidak selamanya berdampak positif, membuat
praktisi pendidikan merasa khawatir. Salah satu kekhawatiran yang masih belum
terobati yaitu rendahnya minat baca siswa sekolah di Indonesia. Tahun-tahun
sebelumnya, ketika buku masih menjadi satu-satunya sumber bacaan, tidak membuat
generasi Indonesia menjadikan kegiatan membaca sebagai satu kebutuhan dalam
hidup. Terlebih ketika dunia ini telah dikuasai teknologi (Gadget Holic) informasi yang memungkinkan seseorang untuk
mendapatkan ilmu pengetahuan dari berbagai media, peringkat Indonesia dalam hal
membaca masih sangat rendah. Kini, buku bukan menjadi beban dengan hadirnya
buku eleltronik yang bisa diakses kapanpun, dimanapun, dan dalam situasi
apapun.

Dunia yang kian kompetitif
ini, menuntut generasinya untuk cerdas, kreatif, dan inovatif. Semua keterampilan
itu dapat
diwujudkan
dengan berbagai cara, salah
satunya melalui kegiatan membaca kreatif. Tuntutan abad ini membuat generasi
muda haus akan bacaan baik dari dalam maupun luar negeri.

 

B.    
Tujuan

1.      Membuat seseorang lebih gemar membaca

2.      Meningkatkan pendidikan menjadi lebih baik dari
sebelumnya

3.      Meningkatkan kesadaran akan pentingnya membaca dan
menulis

 

C.   
Rumusan
Masalah

Dari latar belakag yang sudah
dijelaskan diatas, maka penulis memfokuskan rumusan masalah agar lebih detail
dalam membahas masalah dalam makalah ini, rumusan masalah nya yaitu :

1.      Metode
apa yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia,
selain gemar membaca?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

Pembahasan

 

Membaca
mungkin kegiatan yang mudah dilakukan, namun susah untuk dijadikan kebiasaan.
Bosan, jenuh, cepat menghampiri ketika mulai melakukan kegiatan membaca,
sehingga generasi muda merasa bahwa membaca merupakan kegiatan yang
membosankan. Apalagi dizaman seperti sekarang ini dimana semua hal bisa
divisualisasikan menjadi grafis sehingga mengurangi minat baca masyarakat1.
Contohnya ketika sebuah novel dijadikan film layar lebar, kebanyak orang lebih
menyukai menonton filmnya tanpa membaca novelnya terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan
waktu yang dibutuhkan lebih cepat dimana mereka dapat memahami isi cerita hanya
dalam waktu sekitar 1,5–2 jam dengan menontonnya daripada membaca novel
tersebut hingga berhari-hari. Akan tetapi ada beberapa hal yang tidak bisa
digrafiskan atau digambarkan begitu saja seperti mempelajari ilmu pengetahuan.
Hal itu tidak dapat dimengerti ketika menontonnya saja, melainkan perlu membaca
berulang-ulang agar apa yang dibaca bisa terserap oleh otak. Hal inilah yang
kerap menjadi sesuatu sepele yang dilakukan masyarakat tanpa mengetahui arti
dari pentingnya membaca2.

Di
zaman seperti sekarang ini, banyak remaja yang membaca buku apabila sedang
membutuhkan sumber untuk mengerjakan tugas. Hal seperti ini juga sering terjadi
saat seorang mahasiswa sedang menyusun tugas akhir atau skripsi. Maka dari itu
kebiasaan membaca harus dibiasakan mulai sejak dini. Keterampilan membaca dapat
meningkatkan kemampuan seseorang untuk memahami berbagai konsep dengan sangat
mudah.

Hal
ini dapat mengembangkan keterampian berpikir kritis pada anak-anak. Memahami
konsep dan pemikiran kritis merupakan dua hal yang termasuk kualitas penting
dari seorang individu yang sukses. Selain itu, membaca juga dapat meningkatkan
kosa kata seseorang, perintah pada bahasa, dan kemampuan berkomunikasi3.

Kemampuan
membaca secara langsung berhubungan dengan kemampuan menulis seseorang karena
jika seseorang jarang membacais akan mengalami kesulitan dalam menemukan dan
menentukan kosa kata saat ingin menulis. Untuk meningkatkan mutu pendidikan dan
sumber daya yang berkualitas yang dihasilkan dari proses pembelajaran,
pemerintah melakukan terobosan dengan mengadakan gerakan literasi sekolah,
yaitu gerakan massal untuk menumbuhkan gemar literasi guna memenuhi kebutuhan
akan informasi dan bacaan bagi generasi emas yang dimiliki bangsa ini. Langkah
nyata sangat diperlukan untuk saat ini untuk mulai peka terhadap pendidikan,
yaitu melalui literasi seseorang dapat terdidik dengan baik dan benar.

a.      Terbiasa Membaca

Dalam
hal sadar membaca dan menulis untuk generasi muda, pemerintah sebenarnya sudah
memulai dengan misalnya sejak akhir tahun 2015. Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (Kemendikbud) telah meluncurkan sebuah program unggulan bernama
Gerakan Literasi Bangsa (GLB) yang mempunyai tujuan untuk menumbuhkan budi
pekerti remaja melalui budaya membaca dan menulis. Ikhtiar pemerintah
melahirkan kebijakan tersebut tentu sebuah niat yang baik. Hanya saja, ketika
sebuah kebijakan hanya sebagai formalitas dan program kerja saja, tentu tidak
akan menghasilkan hasil yang maksimal. Pemerintah seharusnya juga mengawal
sekaligus mengevaluasi program tersebut, sehingga program dapat berjalan dengan
maksimal dan sesuai dengan kondisi di lapangan4.

Salah satu contohnya seperti mendorong dan mengintervensi lembaga pemerintah dan
lembaga swasta, yang
memiliki ruang tunggu untuk pro aktif menyediakan bahan bacaan, seperti kantor koperasi,
kelurahan, kecamatan,
puskesmas, atau lembaga-lembaga sejenis lain5,
yang meniscayakan pengunjungnya untuk menunggu, bukan menyediakan televisi di
ruang tunggu. Ini memang bukan hal mudah, melainkan harus dipaksa untuk terbiasa
membaca. Sehingga, ketika tempat-tempat tersebut difasilitasi ruang baca
yang baik, maka waktu
menunggu bisa dimanfaatkan untuk membaca.

1 Prayitno. 2008. Dasar Teori dan Praksis Pendidikan. Padang:
Universitas Negeri Padang.

2 Prayitno. 2008. Dasar Teori dan Praksis Pendidikan. Padang:
Universitas Negeri Padang.

3 Prayitno, 2011. Makalah”Membangun Filsafat dan Ilmu Pendidikan” UNP
Padang

4 Prayitno, 2010, Modul, Pendidik Profesional, Universitas Negeri
Padang

5 hartono, Suparlan. 2006. Filsafat Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz.